Daftar Pemegang
Daftar masih kosong. Siapa pun yang mengklaim lebih dulu tercatat di sini selamanya — mulai US$3.
Kisahnya
Melintasi lembah Hadramaut pada 1930-an, penulis Inggris Freya Stark mendaki gumuk pasir dan mendapati dirinya tak punya kata yang siap untuk apa yang ada di hadapannya. Di tengah gurun, di dasar lembah yang selain itu kosong, berdiri ratusan bangunan sempit bertingkat banyak, saling bersandar. Perbandingan yang ia pakai melekat pada Shibam sejak itu: Manhattan-nya gurun.
Perbandingan yang enak dipakai, tapi ada yang menyesatkan di dalamnya. Manhattan naik dengan baja. Shibam naik dengan lumpur. Bata lumpur — tanah yang dikeringkan matahari dan jerami, bahan paling biasa yang ada di kawasan itu — dibawa sampai delapan lantai masih jadi bahasan buku teknik sipil.
Mengapa Ia Tumbuh Ke Atas
Shibam berdiri di tanah yang sedikit meninggi, di tepi alur banjir musiman Hadramaut. Posisi itu memaksakan dua hal sekaligus. Ketika hujan datang, dasar lembah terendam, jadi tanah kering yang tersedia terbatas. Dan keluar dari tanah yang terbatas itu tidak aman; orang tetap di dalam tembok kota.
Permukiman yang tak bisa melebar ke samping akan naik. Rumah-rumah Shibam berlantai lima sampai sebelas dan sebagian mendekati tiga puluh meter. Jalannya sempit, rumah-rumah berbagi dinding, dan seluruh kota muat dalam kira-kira lima ratus meter kali empat ratus.
Cara mencapai ketinggian itu dengan bata lumpur adalah membuat dinding sangat tebal di bawah lalu menipiskannya ke atas. Di lantai dasar dinding mencapai sekitar satu meter; di puncak separuhnya. Karena itu bangunan sedikit mengecil ke atas — nyaris tak terlihat dari jauh, dan justru itulah yang membuatnya berdiri.
Bagian dalamnya mengikuti logika yang sama. Lantai dasar tanpa jendela: gudang dan ternak. Di atasnya, lumbung. Lantai hunian mulai lebih tinggi, dan ruang paling atas mendapat udara paling sejuk dan pemandangan. Ini rumah yang dihuni satu keluarga secara vertikal, dengan satu tangga sempit yang merangkai semua lantai.
Kota Yang Menuntut Perawatan Tanpa Henti
Bata lumpur tidak tahan hujan. Jawaban Shibam bukan mengganti bahan, melainkan menertibkan perawatan. Permukaan luar diplester ulang dengan lumpur secara berkala, dan bagian atas yang paling terbuka dilapisi kapur putih. Dalam foto-foto kota itu, pita putih di puncak bangunan bukan hiasan; itu pelindung.
Kalau perawatan terhenti, sebuah bangunan mulai luruh dalam beberapa tahun. Artinya, selama Shibam berdiri, orang yang tinggal di sana harus membuatnya ulang setiap tahun. Kota berumur lima ratus tahun tidak berarti batanya seumur itu.
Sebagian besar kota sekarang berasal dari abad ke-16. Pada 1532 banjir besar menghanyutkan bagian besar permukiman sebelumnya, dan kota sebagian besar dibangun kembali setelah bencana itu. Sebagai tempat, Shibam jauh lebih tua; ruas Arabia selatan ini berada di jalur perdagangan kemenyan.
Detail Yang Jarang Diketahui
Rumah-rumah Shibam berdempetan dan di banyak titik berbagi dinding. Di lantai atas itu berbuah aneh: atap dan lantai atas bangunan bertetangga tersambung di beberapa tempat oleh lorong. Di sebagian kota, orang bisa berpindah dari satu rumah ke rumah lain tanpa pernah turun ke jalan.
Ini ada gunanya. Gang-gang di bawah adalah ruang publik; tingkat atas sebagian besar adalah tempat perempuan bergerak, dan lorong-lorong itu memungkinkan menjenguk tetangga tanpa keluar ke jalan. Kota ini punya dua lapis sirkulasi terpisah — satu di tanah, satu di atas atap.
Hari Ini
Shibam masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1982. Banjir besar 2008 merobohkan beberapa bangunan dan melemahkan fondasi banyak lainnya. Kondisi konflik di Yaman mempersulit pekerjaan perawatan sekaligus pasokan bahan; kota ini masuk daftar Warisan Dunia dalam Bahaya pada 2015.
Risiko di sini berbeda dari kebanyakan permukiman bersejarah. Yang mengancam Shibam bukan jumlah pengunjung atau tekanan pembangunan, melainkan terputusnya perawatan. Kalau sebuah rumah tak diplester beberapa tahun, ia bisa hilang tanpa bisa dipulihkan. Berdirinya kota ini bergantung langsung pada orang-orang yang terus tinggal di dalamnya.