Daftar Pemegang
Daftar masih kosong. Siapa pun yang mengklaim lebih dulu tercatat di sini selamanya — mulai US$3.
Kisahnya
Di sebuah pulau panjang dan sempit di tengah Danau Onega, tepat di atas batas pepohonan, berdiri gereja yang seluruhnya dari kayu. Ia punya dua puluh dua kubah, dan kubah-kubah itu bukan satu massa: disusun bertingkat, mengecil sembari naik. Dari jauh ia tidak terbaca sebagai bangunan melainkan sebagai siluet hutan yang bertumpuk.
Gereja Transfigurasi rampung pada 1714. Di tempatnya berdiri — Karelia, di barat laut Rusia — batu langka dan hutan tidak. Pilihan bahan karena itu bukan selera melainkan syarat: pinus, dan aspen untuk penutup kubah.
Apa Yang Tanpa Paku, Dan Apa Yang Tidak
Kalimat yang paling sering diulang tentang Kizhi adalah bahwa ia dibangun tanpa satu paku pun. Itu sebagian dari kebenaran dan patut diucapkan dengan hati-hati.
Badan bangunan memang bebas paku. Batang kayu ditakik di ujungnya dan disatukan satu sama lain; di tiap sudut sebatang kayu jatuh ke cerukan yang dipahat pada batang di bawahnya, dan struktur mengunci oleh beratnya sendiri. Tanpa pengikat logam, tanpa adukan. Ini teknik pertukangan yang sudah dipakai kawasan itu berabad-abad — bukan penemuan khusus untuk gereja ini.
Sirap pada kubah lain soal. Lempeng-lempeng aspen kecil ini, disebut lemekh, seluruhnya lebih dari tiga puluh ribu, dan dipakukan. Jadi "tanpa satu paku pun" tidak persis benar. Yang benar: strukturnya menopang diri tanpa paku, kulitnya tidak.
Pemilihan aspen juga bukan kebetulan. Kayunya memuai saat hujan dan merapatkan sambungan, lalu mengering menjadi kelabu keperakan. Karena itulah kubahnya berubah warna mengikuti cuaca.
Tukang Kayu Dan Kapaknya
Ada cerita yang dituturkan di sini: bahwa Nestor, tukang kayu utama yang menyelesaikan gereja itu, melempar kapaknya ke danau dan berkata tak pernah ada yang seperti itu dan tak akan pernah ada. Itu legenda. Tak ada catatannya, dan siapa pembangunnya tidak diketahui. Tetapi cerita itu sendiri semacam bukti — ia menunjukkan bagaimana orang memandang bangunan ini.
Dua bangunan lain berdiri di sebelahnya: Gereja Syafaat dari 1764 dan menara lonceng yang ditambahkan pada 1862. Ketiganya, di dalam pagar kayu yang melingkarinya, membentuk pelataran yang disebut pogost.
Ketika Ia Tak Lagi Bisa Berdiri
Musuh bangunan kayu bukan waktu melainkan air. Batang-batang bawah gereja menyerap lembap dari tanah selama berabad-abad dan mulai lapuk. Menjelang akhir abad kedua puluh bangunan itu miring secara kasatmata, dan risiko runtuh nyata.
Solusinya tidak lazim. Rangka baja dipasang di dalam gereja, lalu bangunan dibagi menjadi bagian-bagian berupa lapisan batang dan diangkat dari dasarnya sendiri oleh rangka itu. Batang yang lapuk dikeluarkan satu per satu, yang sehat dibiarkan, penggantinya dipahat dengan teknik lama lalu dipasang, kemudian bagian itu diturunkan kembali. Pekerjaan berjalan dari bawah ke atas selama bertahun-tahun dan selesai sekitar 2020.
Jadi bangunan yang dibuat tanpa paku menerima tulang punggung logam sementara di dalam dirinya agar tetap berdiri, dan dibangun ulang di atas dirinya sendiri sepotong demi sepotong.
Hari Ini
Kizhi Pogost masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1990. Pulau itu kini ditata sebagai museum terbuka; rumah kayu, kincir, dan kapel dari tempat lain di Karelia juga dikumpulkan di sini.
Kerapuhan yang sesungguhnya ada pada bahannya. Kayu terbakar, lapuk, dan retak oleh siklus beku dan cair. Tindakan pencegahan kebakaran di situs itu menyeluruh, tetapi perlindungan terakhirnya bukan satu tindakan besar: melainkan perawatan terus-menerus — batang dan sirap diperiksa tiap tahun dan diganti satu per satu bila perlu.
Lokasi
Kizhi Pogost, Kizhi Island, Lake Onega, Karelia
62.0681, 35.2242