20 · Myanmar (Burma) · Dibangun sekitar 1044

Candi-Candi Bagan

Ribuan candi dan pagoda tersebar di dataran di tepi Sungai Irrawaddy.

Pemegang saat ini
Jadilah Pemegang Pertama

Belum ada yang mengklaim. Namamu membuka daftar ini — mulai US$3.

Jadi yang pertama:US$3
Bagikan X WhatsApp Gambar

Daftar Pemegang

Disediakan Untuk Nama Pertama

Daftar masih kosong. Siapa pun yang mengklaim lebih dulu tercatat di sini selamanya — mulai US$3.

US$3

Kisahnya

Fajar dari atas teras candi: menara-menara bata membentang hingga ke cakrawala

Naiklah ke teras sebuah candi sebelum fajar dan tunggulah. Saat langit perlahan beralih dari abu-abu menjadi merah muda keemasan, dataran luas mulai menampakkan dirinya: menara-menara bata merah menjulang ke segala arah. Bukan puluhan atau ratusan, melainkan lebih dari dua ribu candi, stupa, dan biara yang membentang hingga ke garis cakrawala di atas lahan seluas empat puluh kilometer persegi di lekukan Sungai Irrawaddy. Semuanya adalah peninggalan dari gelombang pembangunan spiritual luar biasa yang berlangsung selama dua ratus lima puluh tahun.

Inilah yang membuat Bagan begitu istimewa. Bagan bukan sekadar satu bangunan, melainkan sebuah pengabdian spiritual kolosal. Dari abad ke-11 hingga ke-13, para raja, bangsawan, dan saudagar kaya membangun tempat ibadah tanpa henti demi kebajikan spiritual; pada masa puncaknya diperkirakan ada sekitar sepuluh ribu struktur suci di dataran ini.

Pertobatan Seorang Raja

Kisah ini berawal dari Raja Anawrahta yang naik takhta pada tahun 1044. Setelah memeluk agama Buddha Theravada lewat bimbingan biksu Shin Arahan, ia menaklukkan kerajaan Mon di selatan pada 1057 dan memboyong naskah suci, para biksu, serta ahli bangunan bata berpengetahuan tinggi ke ibu kotanya.

Pagoda Shwezigon menjadi cetak biru stupa megah di Myanmar, sementara Candi Ananda yang rampung sekitar tahun 1105 dengan empat arca Buddha berdiri yang menghadap ke empat penjuru mata angin menjadi mahakarya paling anggun di dataran Bagan.

Jarum Pun Tak Dapat Diselipkan Di Antara Bata

Di Candi Dhammayangyi bahkan sebatang jarum pun tak muat di antara celah bata

Candi terbesar di Bagan, Dhammayangyi, dibangun pada pertengahan abad ke-12 oleh Raja Narathu. Legenda mencatat bahwa ia memerintahkan para tukang menyusun batu bata dengan kerapatan sedemikian sempurna hingga sebatang jarum pun tidak bisa diselipkan di sela-selanya.

Pada tahun 1287, serangan pasukan Mongol pimpinan Kubilai Khan meruntuhkan kerajaan ini. Bagan berhenti menjadi ibu kota politik, namun kuil-kuilnya tetap menjadi tempat ziarah suci yang hidup.

Prasasti Empat Bahasa

Batu Myazedi memuat satu naskah yang sama dalam empat bahasa

Di dekat desa Myinkaba berdiri Prasasti Myazedi (1113 M) yang memuat naskah yang sama dalam empat bahasa: Pyu, Mon, Burma Kuno, dan Pali. Dikenal sebagai "Batu Rosetta-nya Myanmar", prasasti ini menjadi kunci bagi para sejarawan untuk menguraikan bahasa Pyu yang telah punah.

Ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2019, Bagan menyuguhkan pemandangan magis yang tidak pernah pudar melintasi delapan abad peradaban.

Lokasi

Bagan, Mandalay Region
Myanmar (Burma)

Old Bagan, Nyaung-U, Mandalay Region

21.1717, 94.8585